WASHOYAL ABAAI LIL ABNAAI

TERJEMAHAN KITAB:

••••••

       √Pertemuan ke 14 √

Pelajaran ke 8

⇨Tentang Adab-Adab Berolah Raga Dan Berjalan Di Jalanan⇦

Duhai anakku...

⇨Sesungguhnya engkau disebagian waktu luangmu, jangan merasa tidak butuh dari berolah raga, hingga (dengan berolah raga itu) dapat memperbaharui semangatmu dalam kegiatan belajarmu.

→Jika engkau keluar untuk berolah raga, maka pilihlah tempat-tempat yang bagus,yang  udaranya sejuk, dan hendaknya engkau tenang dan santai,

⇨Jangan engkau tergesa-gesa ketika berjalan, jangan mengolok-olok seorangpun di jalan, dan jangan engkau tertawa kecuali hanya sebatas tersenyum saja.

Duhai anakku...

⇨Jika engkau keluar untuk berolah raga, atau keperluan lainnya bersama saudara-saudaramu, hendaknya engkau berhati-hati dari menyakiti dari seorang pejalan kaki di jalan.

→Dan berhati-hatilah ketika sedang antri di jalan umum, jika jalanan tersebut luas, maka jalanlah berdua-dua, dan jika tidak, maka berjalanlah dengan sendirian satu persatu.

Duhai anakku...

⇨Sesungguhnya jalanan umum itu bukanlah milik pribadi. dan setiap pejalan kaki memiliki hak untuk melewatinya,

→maka jangan kalian berdesakan di jalanan, karena yang demikian itu dapat merendahkan kedudukan para penuntut ilmu yang mulia, dan menyebabkan hilangnya rasa hormat manusia kepada mereka.

Duhai anakku...

⇨Jika engkau melihat sekumpulan orang dijalan atau sekelompok dari mereka sedang berkelahi di jalan, hendaknya engkau berhati-hati dengan menghindari mereka dan tidak mendekati mereka, karena boleh jadi hal itu akan menjadi sebab engkau dilecehkan atau akan dituduh dengan sesuatu yang tidak engkau lakukan.

Duhai anakku...

⇨Jika  ada seseorang dari kalangan manusia yang berbuat jahat kepadamu di jalan, maka jangan engkau membalas kejahatan itu dengan yang semisalnya ,
→maafkanlah kedzaliman yang dilakukannya terhadapmu, semoga Allah ta'ala mengangkat kedudukanmu dengannya.

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.
{{OQs. Asy syura:40}}

Dengan akhlak yang indah inilah Allah ta'ala mengajarkan kita adab di dalam kitab-Nya yang mulia.

Bersambung InsyaAllah....

Ummu Aiman حفظها الله

''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
http:/tarbiyah-aulad.blogspot.com
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''

         ✒WA  BILAAD ✒

MEMOHON PENYEJUK MATA

DOA
------

َ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

" Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa."
(QS. al Furqan: 74)

…^^^^^^°°°^^^^^^…

✔Diantara perangai hamba ar Rahman adalah memohon diberi istri dan keturunan, yang menjadi penentram jiwa dengan ketaatan mereka kepada Allah subhanahu wata'ala, karena tidak mungkin hati seseorang yang shaleh, akan tenang dan bahagia melihat keluarganya di atas kedurhakaan dan dosa.

☝Ini doa yang kebaikannya akan kembali kepada diri orang yang memanjatkannya dan kepada keluarga serta masyarakatnya seluruhnya

✔Di antara doa hamba yang shaleh pula adalah memohon agar dijadikan pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala.

Ini martabat yang tinggi dihadapan Allah subhanahu wata'ala, derajat shiddiqun.

✅ Mereka, hamba-hamba yang shaleh itu, berdoa agar mereka menjadikan teladan, perilaku mereka menjadi cermin, dan tutur kata mereka menentramkan hati.

Alangkah baiknya apabila kita memperbanyak memanjatkan doa ini.

*********
✏dikutip dari majalah QONITAH edisi 25/vol.03/1437H-2015M

--------------------------------
syarhus sunnah lin nisaa`

JANJI SURGA UNTUK WANITA YANG BERSABAR

⛅☁⛅☁⛅☁⛅☁⛅

����

✏Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah hafizhahallah

����Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.”
(al-Hujurat: 13)

��Demikianlah standar kemuliaan di sisi Allah ‘azza wa jalla, Sang Pencipta manusia, menyelisihi pandangan mayoritas manusia yang melihat seseorang karena statusnya, kekayaan, kedudukan, dan keturunannya. Bisa jadi, seseorang yang “berkantong tebal”, berkedudukan, dari kelas bangsawan, demikian mulia di mata mereka, walaupun dari sisi agama si orang “mulia” tersebut kosong melompong, jauh dari kesalehan dan ketakwaan.

��Sebaliknya, bisa jadi ada seseorang yang tidak bernilai di mata mereka, ibarat manusia buangan atau pinggiran, karena kemiskinannya atau karena fisiknya yang mengundang cela. Padahal karena takwa yang ada dalam kalbunya sebenarnya berderajat mulia di langit sana.

°°°°°°°��

��Ada satu kisah di masa nubuwwah tentang seorang perempuan hitam yang mungkin di mata manusia dia tidak ‘berharga’ karena fisiknya dan sakitnya.

✔✏Atha bin Abi Rabah rahimahullah berkisah sebagai berikut.
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepadaku,
“Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang perempuan yang termasuk penduduk surga?”

“Tentu,” jawabku.

Kata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,
“Perempuan yang berkulit hitam itu. Dia pernah datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengeluh, ‘Saya menderita kesurupan (ash-shar’), kalau sedang kambuh tersingkap auratku. Karena itu, doakanlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar menyembuhkanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberi pilihan kepadanya,
“Apabila mau, engkau bersabar dan ganjaranmu adalah surga. Namun, apabila engkau tetap ingin sembuh dari sakitmu, aku akan memohon kepada Allah ‘azza wa jalla untuk menyembuhkanmu.”

Si perempuan menjawab, “Aku pilih bersabar.”

Kemudian dia melanjutkan ucapannya,
“Namun, auratku tersingkap saat kambuh. Karena itu, doakanlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar auratku tidak terbuka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mendoakannya.
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

°°°°°°°°��

������Subhanallah! Sebuah pilihan yang luar biasa, memilih bersabar dalam derita di dunia demi meraih kebahagiaan di negeri sana. Betapa besarnya keyakinan si perempuan atas janji yang diberikan,

“Apabila mau, engkau bersabar dan ganjaranmu adalah surga.”

☝��Dengan pilihannya untuk bersabar menunjukkan si perempuan termasuk orang yang beroleh syahadah atau dipersaksikan dan diberi kabar gembira oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga.

******��

⛅��Terkait dengan hadits di atas, perlulah kita ketahui bahwa syahadah sebagai penghuni surga itu ada dua macam:

1⃣. Syahadah ‘ammah atau persaksian yang umum, yaitu orang yang dipersaksikan masuk surga dengan menyebut sifat-sifat mereka.

❓Siapakah mereka?
Mereka adalah semua orang yang beriman dan bertakwa. Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang surga,

“(Surga itu) telah disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Ali Imran: 133)

����Jadi, setiap mukmin yang bertakwa dan beramal saleh kita persaksikan termasuk penduduk surga.

✋��❌Namun, kita tidak menyebut nama-nama tertentu,  “Si A”, atau “Si B”, karena kita tidak tahu akhir keadaan seseorang ketika menutup umurnya dan kita tidak tahu apakah batinnya sama dengan lahiriahnya.

✔Karena itu, apabila ada seorang yang baik meninggal dunia, kita katakan, “Kita berharap dia termasuk penghuni surga.”

✋��❌Adapun memastikan dengan mempersaksikan, “Dia pasti masuk surga,” ini tidak diperbolehkan.

2⃣. Syahadah khashah atau persaksian yang khusus, yaitu mereka yang dipersaksikan dengan ta’yin (menyebut namanya).

❓Siapakah mereka?
Mereka adalah orang-orang yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni surga dengan menyebut namanya atau menunjuk orangnya, seperti para sahabat yang digelari al-Asyrah al-Mubasysyarina bil Jannah, yaitu Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Said bin Zaid, Sa’d ibnu Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah Amir ibnul Jarrah, dan az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu ‘anhum.

Contoh yang lain, Tsabit bin Qais bin Syammas, Sa’d bin Mu’adz, Abdullah bin Salam, Bilal bin Rabah, dan selain mereka radhiallahu ‘anhum.

✔Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memastikan bahwa mereka penghuni surga, maka tanpa ragu kita mengatakan, “Abu Bakr radhiallahu ‘anhu masuk surga”, “Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu masuk surga”, dan seterusnya.

Termasuk pula perempuan hitam yang disebutkan dalam hadits di atas, kita yakin dia pasti termasuk penduduk surga.

��Perempuan berkulit hitam mungkin tidak bernilai dalam pandangan manusia. Apalagi ia memiliki penyakit dan tersingkap auratnya saat penyakitnya kambuh. Karena itu, dia menginginkan kesembuhan dengan meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kesembuhannya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan sesuatu yang jauh lebih nikmat apabila bisa bersabar, yaitu ‘masuk surga’.

❓❓��Siapakah yang tidak ingin masuk surga?

Si perempuan hitam itu pun memilih bersabar walau harus menanggung derita di dunia dengan penyakit shar’nya[1].

��Demikianlah hadits ini berbicara tentang seorang wanita yang di mata manusia bisa jadi tidak bernilai, dipandang hina dan direndahkan, apatah lagi dengan sakit rahimahullah yang dideritanya. Namun, ternyata menurut pandangan syariat dia begitu bernilai, karena kuatnya keyakinannya kepada Allah ‘azza wa jalla, keimanannya akan janji surga dan kesabarannya menanggung derita di dunia demi sebuah asa yang paling tinggi; masuk surga.

•••••••
❓Bagaimana dengan kita?
�� Tentunya kita harus yakin bahwa kesabaran itu pasti berbuah kebaikan di dunia dan terlebih lagi di akhirat.
•••••••

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawwab.

��(Faedah dari penjelasan Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah terhadap hadits ini dalam kumpulan hadits pada kitab Riyadhush Shalihin, 1/131—134)

----------

⬇ket:

[1] Penyakit ash-shar’ (mengamuk seperti yang dialami orang yang kesurupan atau gila) ada dua macam:

➖Karena gangguan saraf. Penyakit ini bisa diobati, dengan izin Allah ‘azza wa jalla, oleh para dokter dengan memberikan obat kepada penderitanya sehingga bisa menenangkannya atau membuat sakitnya hilang sama sekali.

➖Karena gangguan jin/setan. Setan merasuki tubuh si penderita sehingga dia kesurupan dan kehilangan kesadarannya.

Untuk macam yang kedua (kesurupan karena gangguan jin) ini, apabila belum menimpa seseorang, perlu dilakukan pencegahan; dan apabila sudah telanjur terkena, perlu dilakukan pengobatan untuk menghilangkannya.

��Pencegahan dilakukan dengan senantiasa mengamalkan wirid-wirid harian: pagi dan petang.
��Demikian pula membaca ayat kursi pada malam hari sebelum tidur, karena siapa yang mengamalkannya niscaya Allah ‘azza wa jalla terus memberikan penjagaan kepadanya dan setan pun tidak dapat mendekatinya hingga pagi hari.
�� Termasuk pula membaca surah al-Ikhlash dan al-Mu`awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas).

��Pengobatan dilakukan dengan meruqyah penderita, yaitu membacakan padanya al-Qur’an dan doa-doa yang ma’tsur (ada atsarnya)

sumber:
http://asysyariah.com/janji-surga-untuk-perempuan-yang-sabar/

※※※※※※※※※※※※※ ※※※※※
��syarhus sunnah lin nisaa`
※※※※※※※※※※※※※ ※※※※※

WASHOYAL ABAA LIL ABNAAI

�� Sabtu,18 Muharram 1437 H/ 31 Oktober 2015 M
------------------------------------------
������������������
Pertemuan ke:13

����TERJEMAHAN KITAB:

""

              ———○●⊙●○———

����Duhai anakku...

→Berhati-hatilah engkau ketika mengulangi pelajaran dengan hanya menghafal  lafadz saja tanpa memahami maknanya. Akan tetapi  jadikanlah perhatianmu itu lebih terfokus untuk memahami makna-maknanya dan mengokohkannya didalam pikiranmu. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah apa yang engkau pahami bukan apa yang engkau dihafalkan.

����Duhai anakku...

→Sungguh sedikit seorang penuntut ilmu yang tatkala berkumpul dengan sekelompok dari teman temannya melainkan percakapan yang terjadi  diantara mereka, diwarnai diskusi dan perdebatan dalam masalah-masalah yang mereka ketahui.

→Maka jangan engkau memotong ucapan orang yang berbicara, dan jangan engkau tergesa-gesa menjawab sebelum engkau menelitinya .jangan engkau mendebati di dalam suatu permasalahan yang belum engkau telaah terlebih dahulu.

☝��Jangan engkau berdebat tanpa haq.
Jangan engkau menampakkan kehebatanmu terhadap orang yang  mendebatmu. Dan jangan engkau keluar dari tema pembahasan dengan engkau merendahkan pendapat orang yang mendebatmu.dan tidak  menyatakan ucapan yang menyakitkan, dan tidak mencelanya jika nampak kesalahan dalam pemahamannya.

����Duhai anakku....

→Berdiskusi diantara para pelajar  dalam masalah ilmiah sangat besar faidahnya :
Menguatkan pemahaman, memudahkan lisan dan membantu baiknya ungkapan kepada hal yang dimaksudkan, dan melahirkan pada diri seorang penuntut ilmu ketekunan dan keberanian.
Akan tetapi,�� wahai anakku...
Semua ini tidak akan bermanfaat disisi Allah dan disisi manusia kecuali jika engkau berakhlak yang mulia, jauh dari keburukan dalam ucapan, hendaknya engkau mengucapkan kebenaran, walau itu terhadap dirimu sendiri, dan engkau tidak peduli dengan celaan dari orang-orang yang mencela dalam menyampaikan kebenaran.

��Pelajaran ke delapan8⃣:

TENTANG ADAB  BEROLAH RAGA DAN BERJALAN DI JALANAN.

��Bersambung insyaAllah...

✒__Ummu Aiman حفظها الله��
____________________

��http //:tarbiyah -aulad.blogspot.com

                      �� WA BILAAD ��

〰〰〰〰〰〰��������〰〰〰〰〰

ENGKAU ISTIMEWA KARENA TAKWA 3

⤵⤵••°°••

��Seseorang hanyalah istimewa dengan takwa.
Maka dari itu,ketika memilih pasangan ataupun memilihkan pasangan untuk orang lain, utamakan takwa, setelahnya baru mempertimbangkan hal lain.
⛔Tidak boleh menganggap remeh urusan agama si calon.
❓Periksalah, apakah dia seorang yang senantiasa menegakkan shalat dan menjalankan rukun-rukun Islam yang lain?
❓Apakah dia seorang yang selalu berupaya meninggalkan kemaksiatan?
❓Apakah dia seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, suka beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai kebaikan lainnya?

��Seseorang yang mengesampingkan perkara agama dalam urusan ini menunjukkan bahwa dia seorang yang lemah agamanya, lemah keimanannya, dan sedikit takwanya.

����☑Para wali yang mengurusi perempuan mereka, baik putri, saudara perempuan, maupun keponakan perempuan, hendaknya mengedepankan kesalihan seorang lelaki yang meminang perempuan mereka.

��Apabila si perempuan ridha terhadap lelaki yang datang, tanpa ada cela pada agama dan akhlak si lelaki, wali wajib menikahkannya, walaupun si lelaki bukan dari kasta atau “kelas” yang sama dengan mereka.
����Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

✋��❌Wali tidak boleh memaksa seorang perempuan untuk menikah dengan lelaki pilihan walinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Anak gadis tidak boleh dinikahkan sampai dimintai izinnya.”
(HR. al- Bukhari dan Muslim)

✋��Dengan demikian, tidak ada kehinaan bagi seorang bangsawan menikah dengan bukan bangsawan.
✋�� Tidak ada kerendahan bagi seorang Arab ketika menikah dengan non-Arab.
✋�� Tidak ada cela satu suku menikah dengan suku yang berbeda.

⬛◾▪ Manusia semuanya sama, anak keturunan Adam.

������◻◽▫Yang membuatmu istimewa hanyalah karena takwa. Karena takwa pula engkau pantas diutamakan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

keterangan:

[1] Ketika Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha selesai dari iddahnya, datanglah Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm melamarnya. Fathimah menyampaikan perihal lamaran tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam guna meminta bimbingan beliau. Beliau menasihatkan,
“Adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sementara itu, Muawiyah seorang yang fakir, tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid….”
(HR. Muslim)

[2] Walaupun ada kebolehan bagi lelaki untuk menikah dengan perempuan dari kalangan ahlul kitab.

[3] Adapun jumhur ulama memandang bahwa selain agama maka nasab juga termasuk dalam kafa’ah. (Fathul Bari, 9/166)

---------------
����sumber artikel dikutip dari:
http://asysyariah.com/engkau-istimewa-karena-takwa/

✏(Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

※※※※※※※※※※※※※ ※※※※※
��syarhus sunnah lin nisaa`
※※※※※※※※※※※※※ ※※※※※